Halo Daerah

Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, DPPPA Wajo Optimalkan Peran Petugas Pendamping

Foto: Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Andi Satriani, SKM, M.Kes,

HALOSULSEL.COM, WAJO — Perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan dari tindak kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, dan perlakuan salah lainnya.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak telah memberikan dampak negatif yang luas tidak hanya terhadap korban, tetapi juga berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak dalam kehidupan satu keluarga.

Hal ini mengingat kekerasan terhadap perempuan dan anak seringkali terjadi di lingkungan domestik (rumah tangga), disamping terjadi di lingkungan publik/umum atau di suatu komunitas. Kekerasan yang dihadapi perempuan dan anak bukan hanya berupa kekerasan fisik, melainkan juga kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran.

Sebagai langkah strategis dalam membantu perempuan dan anak korban kekerasan untuk mendapatkan layanan yang cepat dan responsif terhadap kebutuhan korban, sejak tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Wajo melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menginisiasi terbentuknya Petugas Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Di Tingkat Kecamatan dan telah ditetapkan melalui Keputusan Bupati Wajo.

Untuk mengoptimalkan peran Petugas Pendamping, maka dilaksanakan Pelatihan Petugas Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

Acara yang dibuka pada Selasa (19/11/2019) kemarin oleh Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kabupaten Wajo, H. Mahmud, S. Pd, M. Pd diikuti sebanyak 30 orang peserta terdiri dari Petugas Pendamping di Tingkat Kecamatan dan Pendamping P2TP2A Kabupaten Wajo.

Adapun narasumber dari pelatihan ini dari UPT P2TP2A Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan, Polres Wajo, Dinas Sosial Kabupaten Wajo, Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo dan LBH Bhakti Keadilan.

Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak, Andi Satriani, SKM, M.Kes, mengatakan bahwa keberadaaan Petugas Pendamping untuk melakukan upaya preventif.

Selain itu Petugas Pendamping juga mempunyai tugas penjangkauan terhadap perempuan dan anak yang mengalami permasalahan, melakukan identifikasi kondisi dan layanan yang dibutuhkan perempuan dan anak yang mengalami permasalahan, melindungi perempuan dan anak dari lokasi kejadian yang dapat membahayakan dirinya, menempatkan perempuan dan anak yang mengalami permasalahan di Rumah Aman atau di P2TP2A atau pada lembaga lainnya bila diperlukan.

“Selain tugas tersebut, Petugas Pendamping juga dapat berperan serta untuk mendorong aparat penegak hukum agar dapat menegakkan hukum yang adil serta hukuman yang setimpal bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan dan anak agar menimbulkan efek jera. Sehingga dengan demikian P2TP2A dapat bekerja secara optimal untuk menangani perempuan dan anak yang mengalami kekerasan atau permasalahan,” ujarnya.

Sementara Ketua Panitia Pelaksana Kegiatan Hj. Andi Chenrara S.Sos, menyampaikan tujuan pelaksanaan kegiatan adalah untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam penanganan dan pendampingan kasus korban kekerasan.

“Dan juga tentunya, membangun koordinasi dan jejaring yang berkesinambungan baik di tingkat kecamatan maupun tingkat kabupaten,” jelasnya. (*/Red)

Editor : Zahar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Konten dilindungi !
Secured By miniOrange