Tajuk

Plastik Bukti Peradaban, Mengapa Harus Dilarang!

Foto Ilustrasi

HALOSULSEL.COM — Banyak saat ini kita temui kampanye larangan penggunaan kantong plastik. Dulu awalnya disorot adalah botol mineral, sebelum kantong plastik. Baik melalui media elektronik, media cetak, media online dan media sosial.

Entah gerangan apa yang membuat larangan itu tiba-tiba hadir diruang gerak kita saat ini.

Dalam penelusuranku untuk mencari pokok permasalahan soal larangan penggunaan plastik yang saya temukan dibeberapa media cetak , media online bahkan media sosial saya mendapat kesimpulan bahwa salah satu yang menjadi penyebab munculnya larangan penggunaan plastik tersebut adalah beredarnya foto atau gambar ikan paus yang mati dan ditemukan didalam perutnya terdapat beberapa jenis plastik yang tertelan oleh ikan paus tersebut.

Padahal jika kita pahami plastik tak bersalah dalam hal ini, yang perlu kita salahkan kenapa plastik tersebut sampai terbawa ke laut dan dimakan oleh ikan. ini terbukti bahwa masyarakat kita masih kurang sadar akan dampaknya sampah jika dibuang sembarangan, sampah harus dipilah dan dikelola di sumber timbulannya agar sampah itu tak sampai ke laut.

Pengelolaan sampah mudah saja dijalankan bila sesuai regulasi yang ada di negara kita yang tertuang dalam UU No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP. No.81 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga.

Plastik yang kita pakai dalam keseharian merupakan bukti nyata kemajuan peradaban
manusia, manusia tak akan bisa terpisah dari plastik karena sebagian besar yang kita gunakan dalam hidup ini berbahan plastik dari berbagi jenis yang ada. Mengapa kita dilarang dalam memakai plastik, padahal plastik yang kita pakai bisa di daur ulang lagi.

Ketgam : Christine Halim Ketua Umum ADUPI (Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) bersama Presiden RI Joko Widodo.

Di Indonesia sendiri pabrik daur ulang plastik yang ada kurang lebih 400 jumlahnya dan itu tergabung dalam satu asosiasi yang bernama “ADUPI”(Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia) yang dipimpin oleh seorang perempuan hebat dan kreatif bernama ibu Christine Halim yang juga sebagai owner dari PT. Langgeng Jaya Plastindo (recycled plastic) dan PT. Langgeng Jaya Fiberindo Tangerang (recycled fiber and non woven) Surabaya.

Adupi selain mempunyai anggota dari industri daur ulang juga mempunyai anggota dari Bank Sampah yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai garda terdepan rekayasa sosial dalam merubah paradigma kelola sampah di masyarakat.

Ditangan lembut beliau dalam memimpin asosiasi tersebut Adupi menjadi asosiasi yang besar dan disegani, serta memiliki peran penting dalam membantu pemerintah mengurangi sampah terkhusus sampah plastik, namun sayang ada himbauan yang melarang penggunaan plastik yang dikeluarkan oleh pemerintah tanpa sadar pemerintah sudah mematikan pabrik-pabrik yang menggunakan plastik termasuk pabrik daur ulang serta menimbulkan pengangguran besar-besaran akibat matinya perusahan yang memproduksi atau mendaur ulang plastik.

Mengenai larangan penggunaan plastik yang konon katanya tak ramah lingkungan, membuat kita bertanya-tanya apakah pemerintah sudahkah menyiapkan bahan pengganti plastik yang ramah lingkungan serta terjangkau harganya atau murah ???!!!

Penulis : RUY (Aktivis dan Pemerhati Sampah Indonesia)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Konten dilindungi !
Secured By miniOrange