Keterangan Gambar : Kunjungan Deputi Bidang Litbang BKKBN RI, Prof Muhammad Rizal di Desa Sogi Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo untuk pencanangan Kampung KB dan Peluncuran Dashat. (Photo: Has/Halosulsel)


HALOSULSEL.COM, WAJO -- Selain faktor gizi perkawinan usia dini juga menjadi salah satu penyumbang tingginya kasus stunting di Indonesia.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan (Lalitbang) BKKBN RI, Prof Muhammad Rizal Martua Damanik saat melaunching Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) di Desa Sogi Kecamatan Maniangpajo, Kabupaten Wajo, ProvinsiSulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (15/9/2022).

"Pernikahan usia anak di bawah umur beresiko stunting. Kenapa? karena umur tersebut masih tumbuh kembang," kata Prof Rizal.

Pasalnya kata dia, pernikahan anak usia dini sangat beresiko bagi anak dan ibu disebabkan kurang siapnya pasangan suami istri dibawah umur mengenai asupan gizi yang cukup semasa kehamilan.

Belum lagi kematangan psikologis dan organ reproduksi yang belum siap berproduksi, serta pengetahuan tentang pola asuh yang benar.

"Jadi selain harus meningkatkan konsumsi gizi masyarakat kita, pemerintah juga harus mencegah pernikahan dini," ujarnya.

Pada kesempatan itu, Prof Muhammad Rizal juga juga menitip pesan pada generasi muda Wajo, untuk menunda pernikahan usia dini demi masa depan Wajo lebih baik

"Jadi kalau menikah, untuk perempuan baiknya di usia 21 dan usia 25 bagi laki-laki. Tapi kalau menurut undang-undang 19 tahun boleh, asal jangan dibawa 19 tahun," pesannya.

Diketahui, selain pencanangan Kampung KB dan peluncuran Dashat, Prof Muhammad Rizal yang didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Selatan, Hj Andi Ritamariani juga berkunjung langsung ke tempat pelayanan KB Gratis, pameran mini kelompok UPPKA serta Gerebek Stunting (Gerakan Kunjungan ke rumah keluarga stunting) sekaligus penyerahan bantuan bahan pokok kepada keluarga berisiko.(Has)