Halo Daerah

Laut Indonesia Darurat Sampah, UNHAS Mencari Solusi

HALOSULSEL.COM, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin ( UNHAS ) Makassar melalui Fakultas Kelautan Dan Ilmu Perikanan mengadakan acara Forum Temu Ilmiah dengan tema Laut Indonesia Darurat Sampah Plastik.

Hadir dalam acara tersebut antara lain ketua Departemen Ilmu Kelautan Dr. Ahmad Faisal ST, M.si, Sekretaris Departemen Ilmu Kelautan Dr. Wasir Samad S.si M.si, Prof. Akbar Tahir M.sc , Deputi Ipteks dan Sumber Daya Kemenko Maritim dan Investasi RI selaku penanggung jawab program Marine Plastic Debirs RI Dr. Ir. Safri Burhanuddin DEA , Technical Advisior YKL Irham Rapy , CEO Mall Sampah Adi Saifillah Putera Dan Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation Asrul Hoesein.

Dalam sambutannya Safri Burhanuddin Deputi IV Kemenkomaritim menyampaikan bahwa sampah laut yang saat ini menjadi bahan perbincangan dunia terkhususnya Indonesia yang menjadi negara kedua penyumbang sampah laut setelah Cina.

Sumber sampah laut terbesar dari 80% berasal dari sampah darat. Dimana sampah laut Indonesia yang¬† paling besar melalui sungai-sungai serta saluran pembuangan air lainnya,” bebernya.

Sungai Citarum sendiri kata dia, merupakan sungai terbesar penyumbang sampah laut Indonesia dan Citarum juga merupakan Sungai terkotor di dunia yang menjadi salah satu penyumbang sampah laut.

Senada l, Prof Akbar Tahir mangatakan, plastik merupakan temuan manusia sebagai bahan yang memiliki daya tahan yang kuat disegala sektor.

“Kita tidak bisa lepas dari plastik karena semua kebutuhan kita ada plastiknya. Plastik juga merupakan komuditi terbanyak ketiga yang paling banyak digunakan setelah baja dan semen,” ungkap Prof Akbar Tahir.

Namun entah kenapa lanjutnya, plastik kini seakan-akan menjadi produk yang membahayakan dan menakutkan setelah terkontaminasi dengan alam secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu.

“Misalkan contoh yang sering diperlihatkan kepada kita di media sosial bahkan media cetak dan online seekor ikan paus sperma mati dan didalam perutnya terdapat 9 kilogram plastik dipulau Wakatobi – Sulawesi Tenggara. Apakah dengan kejadian itu membuat kita harus anti plastik?,” katanya.

Plastik tidaklah bersalah, tapi kata dia, yang harus diperbaiki adalah bagaimana manusia bijak dalam menggunakan plastik dalam kehidupan. “Soal sampah laut solusinya adalah perbaiki tata kelola sampah darat agar sampah darat tak bermuara kelaut,” tambah Prof Akbar.

Sedangkan dari Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation Asrul Hoesein memaparkan bahwa sampah Indonesia yang bermasalah bukan pada produk sampahnya tapi sistem pengelolaan sampah yang tak sesuai amanah regulasi UUPS dan kunci sampah indonesia di pasal 13, 44 dan 45 UUPS.

Untuk diketahui acara tersebut dihadiri kurang lebih 300 orang mahasiswa dari Unhas dan UMI.(*/Ruy)

Editor : Zahar

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top
error: Konten dilindungi !
Secured By miniOrange